Kurniawan Golonda
FaktaraID
Belum lama ini, makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu siswa SDN 13 Kaidipang saat jam istirahat tiba. Kini, sebagian dari mereka justru mengaku takut menyentuh makanan dari program tersebut setelah mengalami muntah, sakit perut, dan diare usai menyantap menu yang dibagikan di sekolah.
“Hari ini belum ada MBG,” kata seorang siswa di sekolah itu.
Kalimat tersebut diucapkan tanpa nada kecewa. Bagi sebagian siswa, tidak adanya pembagian makanan justru menghilangkan rasa khawatir yang masih mereka rasakan sejak beberapa hari terakhir.
Mereka masih mengingat apa yang terjadi setelah menyantap menu ayam bumbu rujak yang dibagikan melalui program MBG pada Senin, 8 Juni 2026. Sejumlah siswa mengaku mengalami muntah, sakit perut, hingga diare. Sebagian lainnya mengeluhkan mual setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Pengalaman itu meninggalkan kesan yang belum hilang. Beberapa siswa mengaku kini takut mengonsumsi makanan MBG lagi.
Program yang dirancang pemerintah untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah mendadak menjadi perbincangan di ruang kelas, halaman sekolah, hingga kalangan orang tua. Bukan karena manfaatnya, melainkan karena dugaan adanya makanan yang sudah tidak layak konsumsi.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara menemukan sedikitnya enam siswa SDN 13 Kaidipang mengeluhkan sakit perut dan mual setelah mengonsumsi makanan yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Boroko Kaidipang.
Temuan itu diperoleh saat dinas melakukan penelusuran di sekolah pada Kamis, 11 Juni 2026.
Dalam laporan tersebut juga disebutkan adanya sekitar tujuh ompreng berisi ayam bumbu rujak yang diduga sudah basi dan tidak layak dikonsumsi.
Hal itu memperkuat kekhawatiran yang sebelumnya muncul di lingkungan sekolah.
Kepala SDN 13 Kaidipang, Wiko Harundja, mengatakan keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG.
Menurut dia, sekolah tidak menolak program tersebut. Namun kualitas makanan yang diberikan kepada siswa harus benar-benar terjamin.
“Kalau makanan sudah tidak layak makan, kami khawatir anak-anak bisa mengalami keracunan,” katanya.
Wiko menegaskan pihak sekolah tidak mengada-ada. Apa yang disampaikan, kata dia, merupakan kondisi yang ditemukan langsung di lapangan.
Kekhawatiran serupa muncul di SMKN 1 Kaidipang. Sekolah itu sempat menerima distribusi MBG pada hari yang sama. Namun makanan tidak jadi dikonsumsi setelah petugas SPPG datang dan meminta agar paket tersebut tidak dibagikan kepada siswa.
Pihak sekolah akhirnya memilih menolak distribusi MBG pada hari berikutnya karena khawatir makanan yang disalurkan dapat membahayakan kesehatan siswa.
Keputusan itu menunjukkan bahwa persoalan yang muncul tidak lagi sebatas dugaan makanan basi. Yang ikut terdampak adalah rasa percaya terhadap program itu sendiri.
Bagi anak-anak, kepercayaan dibangun dari pengalaman sederhana. Ketika makanan yang seharusnya membantu mereka tumbuh sehat justru dikaitkan dengan sakit perut, muntah, dan diare, rasa takut menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Di sisi lain, Kepala SPPG Boroko Kaidipang, Curvy Runtuwene, memastikan makanan yang dilaporkan bermasalah telah ditarik dan distribusi dihentikan sementara untuk keperluan evaluasi.
Dinas Kesehatan bersama ahli gizi juga telah melakukan pemeriksaan terhadap dapur penyedia makanan.
Menurut Curvy, pemeriksaan awal tidak menemukan indikasi adanya makanan yang bermasalah. Meski demikian, pihaknya tetap menyampaikan permohonan maaf kepada sekolah dan seluruh penerima manfaat.
“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang terjadi. Semua masukan, kritik, dan laporan akan menjadi bahan evaluasi agar pelayanan program MBG ke depan semakin baik,” ujarnya.
Kasus di Kaidipang menjadi pengingat bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan. Program ini juga ditentukan oleh kualitas dan keamanan pangan yang diterima siswa setiap hari.
Sebab ketika anak-anak mulai takut menyantap makanan yang disediakan untuk mereka, yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan penerima manfaat, melainkan juga kepercayaan terhadap program yang dirancang untuk meningkatkan gizi generasi muda.









