FaktaraID, BOLMUT – Kasus dugaan makanan basi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kaidipang, Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), memasuki sorotan serius. Aktivis mendesak aparat penegak hukum (APH) menyelidiki pengelolaan makanan oleh SPPG Boroko-Kaidipang setelah sejumlah siswa dilaporkan mengalami sakit perut, muntah, hingga diare usai menyantap menu MBG.
Desakan itu menguat setelah keluhan gangguan kesehatan penerima MBG dilaporkan muncul di sejumlah sekolah di Kecamatan Kaidipang. Dugaan makanan tidak layak konsumsi memicu keresahan orang tua dan menimbulkan pertanyaan soal pengawasan program.
Aktivis Bolmut, Fadel M Hulalango, menilai kasus tersebut tidak bisa diselesaikan hanya melalui evaluasi internal. Menurut dia, dugaan makanan bermasalah dalam program yang menyasar anak sekolah harus diusut secara terbuka.
“Ini bukan lagi sekadar keluhan biasa. Kalau benar ada makanan tidak layak konsumsi sampai menyebabkan siswa sakit, maka harus ada penyelidikan menyeluruh sampai pada tingkat penindakan,” ujar Fadel, Selasa (16/6/2026).
Sorotan terhadap MBG di Kaidipang mencuat setelah sejumlah siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi menu ayam bumbu rujak dalam paket MBG. Keluhan awal muncul dari SDN 13 Kaidipang, lalu meluas setelah dugaan makanan bermasalah juga ditemukan di sekolah lain hingga PAUD di wilayah yang sama.
Dokumen penelusuran Dinas Pendidikan tertanggal 11 Juni 2026 mencatat tujuh ompreng berisi ayam bumbu rujak di SDN 13 Kaidipang ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Dalam laporan itu, satu guru dilaporkan mengalami mual setelah menyantap makanan tersebut. Sementara siswa yang mengeluhkan sakit perut dan mual terdiri dari tiga siswa kelas lima dan tiga siswa kelas satu.
Dinas Kesehatan yang turun melakukan pemeriksaan di SDN 13 Kaidipang dan SDN 1 Kaidipang juga menemukan keluhan serupa terkait menu MBG yang didistribusikan pada Senin, 8 Juni 2026.
Laporan lain turut menemukan dugaan makanan MBG tidak layak konsumsi di PAUD dan sekolah dasar lain di wilayah Kaidipang. Sejumlah siswa disebut tidak menghabiskan makanan karena ayam yang dibagikan berbau tidak sedap. Temuan itu disebut disertai dokumentasi foto dan video.
Fadel mengatakan kasus tersebut tidak bisa dipandang sebagai insiden biasa karena program MBG menggunakan anggaran negara dan menyasar anak-anak usia sekolah.
Ia meminta polisi bersama instansi kesehatan dan dinas terkait memeriksa seluruh rantai pengelolaan makanan oleh SPPG Boroko-Kaidipang, mulai dari kualitas bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi.
“Kalau ada unsur kelalaian, harus dibuka secara terang kepada publik. Jangan sampai keselamatan siswa dikorbankan karena lemahnya kontrol,” ujarnya.
Dia juga menyoroti pemerintah daerah yang hingga kini belum menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium maupun evaluasi resmi terhadap makanan yang diduga bermasalah tersebut.
Di sisi lain, Kepala SPPG Boroko-Kaidipang Curvy Runtuwene mengklaim persoalan menu MBG hanya terjadi di satu sekolah dari total 22 sekolah penerima.
Menurut Curvy, pihaknya langsung mendatangi SDN 13 Kaidipang setelah menerima laporan dugaan makanan bermasalah.
“Kami langsung melakukan pemeriksaan dan uji rasa terhadap menu yang dilaporkan. Ada beberapa ompreng yang sudah mengalami perubahan rasa. Namun sebagai langkah kehati-hatian, seluruh paket MBG untuk hari itu tetap kami tarik dan distribusi dihentikan sementara,” kata Curvy.
Penulis: Kurniawan Golonda
Editor: Tim Redaktur









