FaktaraID, BOLMUT – Polres Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi potensi dampak El Nino dan musim kemarau. Ancaman yang diantisipasi mencakup kebakaran hutan dan lahan, kekurangan air bersih, hingga gangguan pasokan pangan.
Kapolres Bolmut AKBP Andhika Fitriansyah mengatakan, penanganan dampak kemarau membutuhkan koordinasi lintas instansi. Menurut dia, ancaman kekeringan tidak berhenti pada persoalan lingkungan, tetapi dapat memengaruhi kebutuhan dasar masyarakat.
“Kesiapsiagaan adalah kunci utama dalam menghadapi ancaman bencana,” kata Andhika saat memimpin apel gelar pasukan tanggap bencana dampak El Nino di Mapolres, Selasa (4/7/2026).
Apel tersebut melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Satpol PP, Dinas Perhubungan, tenaga kesehatan, PLN, Kejaksaan Negeri Bolmut, serta pemerintah daerah.
Andhika menyebut ada empat langkah yang perlu segera dijalankan. Pertama, pencegahan kebakaran hutan dan lahan dengan menerapkan prinsip zero burning. Pembukaan lahan dengan cara membakar juga akan ditindak.
Kedua, patroli karhutla ditingkatkan. Aparat dan instansi terkait diminta memastikan kesiapan posko pemantauan hotspot untuk mendeteksi potensi kebakaran lebih awal.
Ketiga, Satgas Pangan kembali diaktifkan dengan melibatkan Bulog. Fokusnya menjaga ketersediaan beras dan memastikan distribusi bahan pangan tetap berjalan.
Keempat, pemerintah daerah dan instansi terkait diminta memperkuat manajemen sumber daya air. Salah satu langkah yang disiapkan ialah pembangunan sumur bor komunal di wilayah yang mengalami kekurangan air.
Langkah tersebut menyasar persoalan yang paling cepat dirasakan warga ketika kemarau berkepanjangan, yakni akses terhadap air bersih.
Andhika meminta masyarakat ikut mencegah kebakaran selama musim kemarau. Warga juga diminta menggunakan air secara bijaksana dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Menurut dia, penanggulangan dampak El Nino tidak dapat hanya mengandalkan aparat dan pemerintah.
“Saya mengajak seluruh instansi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan kewaspadaan, serta tidak memberikan ruang sedikit pun terhadap tindakan yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan,” ujar Andhika.
Ia mengatakan kolaborasi tersebut dibutuhkan untuk menjaga keselamatan masyarakat, ketahanan pangan, dan ketersediaan air bersih selama musim kemarau.
Penulis: Wan Golonda
Editor: Tim Redaktur









